Mengusik Sumber : Fedli dan Bani Muda

Budayawan Riau, Prof. Yusmar Yusuf
Loading...

Sejarawan bekerja di atas ‘dokumen’. Dalam dokumenlah termuat jejak pikiran dan perbuatan manusia-manusia terdahulu. Tanpa dokumen, tiada sejarah. Untuk menggali sumber, mau tak mau, kita harus terjun atau menggali dalamnya sumur sejarah. Tanpa dokumen, para sejarawan akan sesat dalam menelusuri masa lalu.

Sementara, dokumen itu sendiri berpembawaan ganda dengan visi yang jamak. Ada dokumen versi istana (sentris); namun ada pula dokumen para kelana jelata (kaum oketai). Kedua bentuk rekam jejak pikiran dan perbuatan manusia ini (istana dan jelata) selalu dipertandingkan, juga saling saing.

Dan jelata akan kalah, karena sumbernya secara kuantitas amat kecil, ringan dan berkisah peran perseorangan. Maka, yang keluar sebagai pemenang dalam “pertandingan” ini adalah dokumen-dokuemn istana (sentris); karena hadir dalam tataran masif, dicatat dengan kelengkapan peristiwa yang berpembawaan vertikal, gradatif, penuh warna dan rona penguasa, birokratis, dan terkesan kaku.

Sumber lain yang layak ditelusuri adalah sumber roman, kisah fiksi, karena meskipun tampil dalam gaya fiksional, dia tetap bersendi dan bersandar pada galur, pada semangat sebuah zaman (sejarah yang terjadi dan berlangsung di depan mata penulis roman-fiksi itu sendiri). Maka, jangan dianggap remeh (ringan) atas kehadiran novel, cerpen atau bahkan puisi.

Karena bentuk semacam ouevres (istilah Prancis untuk karya di luar buku –livre-) ini, sejatinya adalah persaksian zaman ke atas sebuah peristiwa, kejadian atau suasana, bahkan detail terkecil dari suatu peristiwa dalam tatapan orang-orang kecil. Persaksian atas kilas peristiwa dan kenyataan sejati yang mengalami “pengaburan” demi keindahan sejarah (historical blur). Penukilan ke atas sumber adalah sebuah kerja yang melelahkan. Wolfgang von Goethe, berujar dalam karya agungnya ‘Faust’: “Wie schwer sind nicht die Mittel zu erweben, durch die man den Quellen steigt!” (betapa sulit memperoleh sarana hingga ke sumbernya”).

Tentang sumber, dia bisa hilang disebabkan oleh bencana atau peperangan. Artinya, musibah dan bencana penjadi penyebab utama hilangnya jejak (pikiran dan perbuatan). Seakan- akan, ketika dilacak, dia tak pernah ada, padahal pernah ada. Musibah dan bencana adalah momok bagi dokumen kemanusiaan untuk menelusuri sejarah.

Lantas, bagaimana ihwal Muaratakus? Hari ini, kita memperoleh instrumen serba lisan untuk menelusur jejak pikiran dan perbuatan manusia era Muaratakus. Ini sebuah tapak tua di tanah Melayu, namun susah mengungkai sumber-sumber tertulis yang amat terbatas. Bencana atau musibah yang menimpa Muaratakus, bukan semata alam, tetapi juga perjalanan dan ‘kemajuan pemikiran’ manusia yang melingkunginya. Kemajuan ‘pemikiran’ pemerintah Indonesia modern, juga tak menjadi wahana yang mencerahkan atas sejumlah tapak-tapak tua yang menghadir di wilayah Riau.

Begitu juga Situs Sintong di Rokan Hilir, kita juga kehilangan akal budi untuk menggali dan menghampiri sumber dan segala ihwal yang berkait dengan kenyataan situs itu. Dokumen tak mengenal pengganti. Untuk itu, rawat dan peliharalah dokumen!

Dokumen itu bisa dalam bentuk artifaktual, berupa tinggalan benda-benda gerabah untuk keperluan hidup, alat rumah tangga, alat dapur, alat berburu dan meramu, bisa pula dalam bentuk tinggalan jenis “pemakanan” lama yang menjadi sumber energi dan kalori bagi manusia di zaman itu (misalnya kerang, tanaman seperti labu) dan sebagainya.

Bisa pula disidik dari jenis material bangunan seperti jenis bata terrakota yang digunakan untuk membangun candi Muaratakus ataupun Sintong.

Jenis kayu dan tanaman (vegetasi) yang hidup sezaman dengan bangunan candi. Semua sumber ini harus menjalani serangkaian uji-kritis dari para pakar (ahli) tentunya. Tak bisa berangkat dari dugaan “akal sehat” (common sense) semata.

Bangsa yang maju dan tinggi capaian kebudayaannya, ditandai dengan kemampuan dalam hal merawat segala ihwal yang berkait dengan sumber dan segala kaidah yang bisa menjelaskan tentang jejak pemikiran dan perbuatan manusia di sebuah zaman yang jauh dan sayup.

Di tengah anjuran itu; kita perlu memberi apresiasi kepada rekan-rekan muda (bani) teaterawan seperti Fedli Aziz dan rekan yang berinisiatif memecah kesunyian sejarah lewat pementasan kolosal teater di laman ‘saujana tua’ candi Muaratakus, pada Senin malam (15 Februari 2016) silam.

Tak sekadar memecah sunyi, dia juga diharapkan sebagai ikhtiar untuk menghampiri ‘jejaring sumber’ yang juga senyap dan serba jeluk itu.
Selang dua pekan lepas (26 Juni 2021), di ‘teras padsolik’ sebuah tebing sungai nan merisau, perkauman seni ‘Anak Pekan’ juga diterajui Fedli, mengusik kesadaran modernitas tentang Sungai Sail dalam ‘kerumun tuduhan’ sebagai penyebab utama banjir sebuah kota.

Masih senantiasa mengusik “sumber”, walau ketiadaan dokumen teks atau pun penceritaan verbal (semacam folklore). Sebuah upaya berkurung ‘walau’ dan serba ‘namun’. Pun, jangan pernah jengah untuk mencari dan mengusik kesadaran (baik masa lalu, apatah lagi modernitas kekinian). Ya, sembari mengusik sejumlah kegersangan sumber...***


[Ikuti Riau86.com Melalui Sosial Media]






Loading...

Tulis Komentar