Cerita di Balik Terungkapnya Kasus Mutilasi Mayat dalam Koper

SURABAYA/86 --- Mengungkap tabir di balik kasus pembunuhan dan mutilasi mayat dalam koper memang tak mudah. 9 Hari pencarian pelaku hingga kepala yang terpencar dari jasadnya menguras tenaga dan pikiran.

Ketua tim penyidikan yang juga Kasubdit III Jatanras Polda Jatim, AKBP Leonard Sinambela menceritakan detil maupun suka dan duka saat mengungkap kasus ini. Bahkan, Leo menyebut anggota timnya hingga rela tidak tidur selama beberapa hari.

Kasus ini bermula pada Rabu (3/4/2019), saat seorang warga menemukan mayat dalam koper tanpa busana dan tanpa kepala. Leo mengatakan pertama kali yang dilakukan pihaknya yakni mencari identitas korban.

" Kasus mutilasi yang awalnya tanpa identitas biasanya pasti kasus yang tidak mudah. Kami dari kepolisian, paling pertama yang harus diungkap identitasnya. Karena dari itu kami mencari data," kisah Leo di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Selasa (23/4/2019).

Lalu, dari mana polisi bisa mendapatkan data korban? Leo mengatakan pihaknya memiliki sistem yang canggih, apalagi data masyarakat sudah terekam di database.

Untuk itu, di hari pertama pihaknya sudah mengantongi identitas korban, yakni seorang guru honorer Budi Hartanto (28).

"Jika hari pertama sudah bisa diungkap siapa korbannya. Prinsipnya sudah 50% terungkap. Terus terang kalau sudah dapat identitasnya kita semakin semangat. Begitu dapat, kita datangi keluarganya, hari pertama seluruh orang-orang yang kita duga terakhir bertemu dengan korban kita temui, kita minta keterangan, sampai dengan 14 orang," papar Leo.

Setelah mendapat beberapa keterangan keluarga dan teman, Leo mengaku penyelidikan ini awalnya terlihat mudah. Namun, ternyata tak semudah yang dia pikirkan. Pasalnya, baik teman hingga keluarga tak ada yang tahu kemana dan dengan siapa terakhir korban bertemu.

" Dari situ kita berangkat penyelidikan awalnya mudah, ternyata tidak mudah. Begitu kita tahu, terakhir dengan siapa, teman-temannya lihat dia pergi tapi permasalahannya ndak tau pergi kemana. Karena mau antar temannya yang siapa. Tipikal korban banyak kenal orang, hanya temannya tak dikenalkan dengan teman lain," imbuh Leo.

Bahkan, Leo menyebut pihaknya sempat mengalami kebuntuan di hari ketiga dan keempat. Hal ini lantaran pencarian yang dilakukan sehari semalam tak menemui hasil.

Misalnya saja saat dia menemui orang yang disebut terakhir bersama korban. Pria tersebut merupakan warga Tuban. Namun saat ditanya, pria itu mengaku janjian dengan korban, tetapi tidak sampai bertemu.

" Hari ketiga atau hari keempat itu buntu. Teman-temanya sudah kita tanyakan satu per satu, kemudian saya sama tim bagi tugas. Saya sisir kembali seluruh ruas jalan dari sanggar, kita minta bantu monitoring seluruh CCTV Kota Kediri, kemana saja, kita selidiki ke sana sambil kita penyelidikan manual, sekitar hari kelima kita mendapatkan titik terang di mana wilayah yang dikunjungi," lanjutnya.

Akhirnya, Leo pun memfokuskan pencarian di dua wilayah tersebut. Dia menetapkan batasan-batasan pencarian.

"Penyelidikannya kepada orang yang dimungkinkan kenal dengan korban yang memiliki karakteristik penyimpangan seksual, yang berhubungan sejenis. Di dua lokasi itu kita terus dalami, beberapa hari. Titik terang itu misal di kebon-kebon tiap hari menyelidik di situ," lanjutnya.

Di hari ke-9, baru titik terang itu datang lagi. Ada beberapa saksi yang menyebut terjadi keributan di sebuah warung. Lalu, Leo pun mulai mencari informasi di sekitar lokasi hingga muncullah nama seorang pelaku bernama Aris Sugianto.

Namun pencarian belum usai, Aris diketahui kabur ke Lampung. "Di situ kita cari alamatnya, di wilayah Blitar kota dekat TKP pembunuhan. Saya sama tim menuju ke sana, ada ibunya saja. Tanggal 7 April sudah pergi meninggalkan rumah, ibunya saya bawa digeledah rumahnya. Ternyata motor korban ada di situ," lanjut Leo.

Tak hanya itu, di rumah Aris, dia juga menemukan pisau yang digunakan untuk mengeksekusi korban. "Kemudian pisau yang digunakan itu dibawa di rumah, kita sita. Labfor mengecek ada bekas darah di situ, sudah yakin 100% tersangkanya si Aris ini walaupun memang ibunya berkelit tidak tahu," ungkapnya.

Namun, upaya dan kerja keras para anggota pun menuai hasil. Aris pun tertangkap di Jakarta. Sementara seorang pelaku lainnya tertangkap di kediamannya di Kediri.

" Semua anggota beberapa hari ndak tidur. Begitu ada informasi kita kejar terus. Dibilang stres juga saya, kejadian ini sudah geger terungkap kemana-mana. 9 Hari full ndak kerja lain-lain, ndak pulang di Kediri dengan Blitar setiap hari. Untungnya 9 hari bisa terungkap," pungkas Leo. (detik.com)


Baca Juga