Solidaritas Korban Teror, Wanita New Zealand Ramai-ramai Berkerudung

Jumat, 22 Maret 2019

Istimewa

WELLINGTON/86 --- Kaum wanita New Zealand ramai-ramai mengenakan kerudung sebagai aksi solidaritas dan pernyataan sikap damai untuk umat muslim menyusul teror dua masjid di Christchurch.

Aksi solidaritas ini digelar melalui kampanye di media sosial dengan tagar #HeadScarfforHarmony.

Seperti dilansir AFP, Jumat (22/3/2019), Rafaela Stoakes (32) yang merupakan ibu dua anak, menyatakan bahwa memakai kerudung di kepala memberikan pemahaman soal seperti apa rasanya menjadi menonjol dan menjadi bagian dari kelompok minoritas.

Aksi solidaritas memakai kerudung yang dilakukan kaum wanita di New Zealand ini dilakukan bersamaan dengan momen refleksi nasional yang digelar di Hagley Park, sebuah lapangan di depan Masjid Al Noor, salah satu lokasi teror.

Azan dan momen mengheningkan cipta disiarkan langsung oleh televisi nasional New Zealand. Pada Jumat (22/3) pagi waktu setempat, Stoakes memakai kerudung warna merah-putih untuk menutupi seluruh kepalanya, kecuali beberapa helai rambutnya.

Dia menyilangkan kerudung dengan rapi di bawah dagunya, kemudian memasukkan bagian ujung ke dalam jaketnya.

Stoakes hanyalah satu dari sekian banyak wanita di New Zealand yang mempraktikkan kampanye solidaritas #HeadScarfforHarmony, sebagai wujud perlawanan terhadap kebencian yang ditebarkan pelaku teror di dua masjid yang menewaskan 50 orang.

Kerudung juga dikenakan oleh para polisi wanita dan relawan non-muslim yang bertugas mengarahkan para hadirin dalam acara refleksi nasional di Hagley Park. Hal ini dilakukan sebagai wujud penghormatan untuk komunitas muslim.

Refleksi nasional yang dihadiri oleh Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern diawali dengan panggilan azan yang menggema di seluruh wilayah New Zealand.

Panggilan azan itu disiarkan secara langsung oleh televisi dan radio setempat. Momen mengheningkan cipta selama dua menit dan salat Jumat berjamaah juga digelar di Hagley Park.

Sebagai wujud simbolis untuk melindungi umat muslim yang sedang menjalankan salat, warga non-muslim yang turun hadir membentuk barisan di belakang jemaah saat salat Jumat berlangsung.

Kembali ke aksi solidaritas mengenakan kerudung, banyak wanita New Zealand yang baru pertama kali memakainya. "Luar biasa betapa berbedanya perasaan saya saat saya pergi keluar pagi ini. Ada banyak pandangan bingung dan sedikit pandangan agresif," tutur Stoakes.

"Saya merasa bangga bisa memberikan penghormatan untuk teman-teman muslim saya, tapi saya juga merasa rapuh dan sendirian karena saya menjadi satu-satunya orang yang mengenakannya (kerudung). Pasti dibutuhkan banyak keberanian untuk memakainya setiap hari," ucapnya.

Kaum wanita di New Zealand membanjiri media sosial seperti Twitter dan Facebook dengan foto-foto mereka memakai kerudung sebagai aksi solidaritas.

Kate Mills Workman (19) yang seorang mahasiswi dari Wellington, memposting selfie dirinya sedang memakai kerudung warna hijau di Twitter.

"Jika saya bisa, saya akan mendatangi masjid dan berdiri di luar untuk menunjukkan dukungan saya untuk whanau saya, tapi saya ada jadwal kuliah dan saya sungguh tidak bisa bolos," ucapnya kepada AFP, menggunakan bahasa Maori untuk 'keluarga besar'.

" Jelas, ini semua dipicu oleh tragedi mengerikan di Christchurch, tapi juga menjadi cara untuk menunjukkan bahwa setiap bentuk usikan atau kefanatikan yang didasarkan simbol agama tidak dibenarkan," imbuh Workman.

" Sebagai warga New Zealand, kita harus membuat pijakan yang sangat kuat," ujarnya. Saksikan juga video 'Aksi Solidaritas Wanita New Zealand Pakai Hijab untuk Hormati Muslim': (detik.com)